Angkringan Depan Lapas dan Gerimis Selepas Senja di Tengah Kota

“Kalau kelak kau ditanya tentang tempat ini, tolong jangan katakan apa pun. Meski harus kau tebus dengan nyawamu sendiri.”


***


Urusan kita belum selesai, tapi langit buru-buru melipat senja demi melepas air mata. Aku hanya bisa menggerutu sambil kukayuh sepeda butut pemberianmu dulu.

Tujuh tahun berlalu, dan aku masih enggak tahu apa sebenarnya maksudmu. Kau tinggalkan sepeda butut, lalu menghilang tanpa ada kabar dan pamit.

Sejenak aku berhenti di sebuah angkringan depan lapas di tengah kota. Menyandarkan sepeda butut itu di bahu trotoar di antara sedan dan motor-motor berjajar tertata.

Ya, aku suka tempat ini. Tempat pertama yang mempertemukan kita. Kau mengenalkan aku kepada penjual angkringan, yang kemudian memberiku pekerjaan.

Meski hanya sekadar mengantarkan sebungkus makanan, aku terbantu dengan pekerjaan itu. Aku pun enggak peduli tentang siapa penerima makanan itu.

Kadang aku berharap kau mampir dan menyapaku di tempat ini. Kita ngopi dan bertukar cerita, tertawa seperti dulu.

Ternyata tujuh tahun berlalu dan yang kudapati hanya senja yang terlipat sia-sia.

“Apa yang istimewa dengan tempat ini?” tanyaku waktu itu.

“Ah, nanti kamu juga akan tahu sendiri.”

“Kalau memang ada rahasia, kenapa kamu memilih tempat ini? Bukankah masih banyak tempat lainnya yang lebih aman?”

Ah, masa bodoh dengan semua itu.

Aku bergegas pergi setelah penjual angkringan itu menitipkan sebungkus tahu bacem. Seperti biasanya, dia memberiku beberapa lembar uang lima puluh ribuan sebagai jasa antar.

Awalnya sih aku menolak uang itu, tapi dia memaksa. Ya sudah, mungkin ini rezeki buatku.

Tapi anehnya, siapa yang tinggal di rumah mewah di tengah kota yang setiap hari memesan tahu bacem segitu banyaknya? Kenapa enggak diantar sendiri oleh penjual angkringan itu?

Kenapa juga harus selalu aku yang diminta mengantarkannya?

Aneh!

***

Sejak sore itu aku kehilangan angkringan depan lapas dan semua kenangan tentangmu. Kita bertemu di dalam jeruji besi dengan tatapan saling benci. [SNs]

Leave a Reply

You May Also Like