Badut yang Meledakkan Dirinya

badut
badut, sumber: pixabay
Sejak kutemukan potongan kepala badut di selokan siang itu, hari-hariku terasa begitu melelahkan.

Content Writer – Sejak kutemukan potongan kepala badut di selokan siang itu, hari-hariku terasa begitu melelahkan. Sedetik pun waktu enggak memberiku kenikmatan untuk terlelap. Sosok itu terus datang, memintaku untuk pergi ke suatu tempat.


Aku mencoba untuk enggak peduli dengan semua itu, tapi anehnya mimpi itu terjadi berulang dan dia meminta hal yang sama. Semakin kuabaikan, sosok itu semakin lekat mengusik hidupku. Ini seperti potongan adegan yang harus kuperankan tanpa ada jeda dan akhir.


Pagi ini aku datangi tempat di mana kutemukan potongan kepala badut itu. Aku berharap urusan ini segera selesai dan aku bisa menjalani hari-hari dengan tenang. Meski hati ini berusaha menolak, tapi seperti ada yang mengendalikan diriku untuk memercayai mimpi itu.

***

badut
badut, sumber: pixabay

Keramaian di tempat ini masih sama. Udara masih begitu pengab, semakin membuat dadaku berat merasai napas yang terhalang topeng badut ini. Beban hidup kusembunyikan di balik buntalan mesiu yang kuikat kuat di perut, lalu kubalut dengan baju warna-warni yang ketika dipandang dari kejauhan perutku tampak tambun berselimut pelangi.

Dari celah jendela pintu kaca mobil, aku menyaksikan beberapa orang tampak cemas melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan mereka. Sesekali mereka melihat ke arah lampu yang masih merah menyala. Sepertinya dalam hati mereka ingin lampu itu segera berubah hijau, dan membiarkan mereka melesat menuju tempat kerja.

Aku menjadi saksi rupa-rupa kecemasan di raut wajah mereka, hampir setiap pagi. Itu kudapati ketika menyodorkan kaleng kosong untuk meminta sedikit belas kasih mereka. Dengan dandanan konyol ini kusembunyikan pilunya hidup, setidaknya untuk beberapa waktu, sekadar mencari cara agar tetap bisa makan.

Sesaat kemudian aku melihat tiga orang petugas polisi menghambur ke jalan. Mereka menyuruh para pengendara untuk segera melaju, padahal kulihat lampu rambu-rambu masih berwarna merah. Hingga aku yang belum tuntas mendatangi para pengendara di sana harus bergegas menepi.

Oh, tentu saja polisi-polisi itu sedang memberi jalan untuk rombongan mobil pejabat yang hendak melintas di perempatan itu. Dari kejauhan sudah riuh terdengar sirine pengawal memecah keramaian. Salah satu mobil berplat nomor RI 1 melaju di tengah iring-iringan.

Sebentar lagi semua ini akan berakhir, bisikku dalam hati.

Ada yang berdering di saku celana, kulempar kaleng di tanganku hingga beberapa koin berhamburan di trotoar, kuraih handphone yang berdering itu.

“Tunggu aba-aba dariku,” begitulah suara yang kudengar dari telepon.

Entahlah, aku merasa detak jantung ini berdetak dua kali lebih cepat. Seluruh lelah, kebencian, dan murka atas hidup ini seperti mengumpul jadi satu memenuhi kepalaku. Hanya satu hal yang bisa kuyakini bahwa, semua lelah ini sebentar lagi akan berakhir.

“SEKARANG!!”

Aku spontan berlari turun ke jalan menembus iring-iringan yang melintas di perempatan itu. Sekuat tenaga mendekat mobil berplat RI 1 sesuai sumpah yang beberapa hari lalu kuucap. Sebagai konsekuensi perjuangan melawan kebathilan.

Sekejap kemudian aku enggak tahu lagi apa yang telah terjadi. Hanya terdengar dengungan sisa ledakan yang mengantarkan kepalaku jatuh ke dalam selokan.

***

Pagi yang sama, entah yang keberapa kali aku berdiri di perempatan jalan ini. Menyaksikan cemas dari raut wajah para pengendara yang berkejaran dengan waktu. Menyembunyikan lelah dibalik buntalan mesiu yang kuikat erat di perut, di balik kostum badut tambun sewarna pelangi.

Sebentar lagi iring-iringan RI 1 akan melintas di perempatan ini. Tinggal menunggu instruksi, maka misi ini akan berakhir. Semoga esok pagi tak kutemui diri ini terbangun dan menjalani peran ini. [SNs]

Leave a Reply

You May Also Like