Belajar Daring Adalah Solusi di Masa Pandemi?

belajar daring adalah
Sumber: pexels
Serius, belajar daring adalah solusi di masa pandemi? Bagaimana dengan sistem dan keluhan-keluhan terkait belajar daring berikut ini?

Content Writer – Dulu waktu saya masih sekolah, rasanya hepi banget kalau disuruh Pak Guru pulang cepat atau jam pelajaran diliburkan.

Maunya pengin segera ganti seragam, terus main sama teman.

Paling sering sih blusukan di kebon-kebon tetangga nyari buah yang bisa diambil diam-diam.

Atau kalau enggak, ya main nitendo di rumah teman.

Orangtua saya sih sepertinya biasa aja, paling rada marah kalau saya main enggak ingat waktu.

Harusnya ashar sudah ada di rumah, sampai magrib belum pulang.

Sekarang zamannya anak saya sekolah, ketika sekolah diliburkan bukannya senang.

Anak ambyar, orangtua pun jadi pusing. Apalagi liburnya berbulan-bulan dan harus mengikuti belajar daring.

Belajar Daring Adalah Pilihan Alternatif di Masa Pandemi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V, kata ‘Daring’ dimaknai dengan arti ‘Dalam jaringan, terhubung melalui jejaring komputer, internet, dan sebagainya.’

Kalau biasanya belajar lebih sering dilakukan dengan tatap muka, ketemu antara guru dan murid, dalam konsep daring berbeda.

belajar daring
belajar daring

Belajar daring dilakukan melalui media jaringan internet. Bisa menggunakan perangkat komputer, handphone, atau gadget lainnya.

Pada prinsipnya proses belajar mengajar tetap dilakukan, tapi antara guru dan murid enggak harus bertemu.

Konsep belajar daring inilah yang dipilih sebagai alternatif proses belajar mengajar di masa pandemi.

Sebagaimana yang kita tahu bahwa, pemerintah mengeluarkan kebijakan sosial distancing sebagai langkah mengurangi dampak pandemi covid-19.

Otomatis kebijakan ini mempengaruhi kegiatan belajar mengajar di Indonesia pada semua jenjang pendidikan.

Seperti yang disampaikan Mas Mentri Pendidikan, Nadiem Makarim bahwa, hanya ada dua pilihan untuk dunia pendidikan.

“Kegiatan belajar mengajar dihentikan total hingga pandemi berakhir, atau tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar tapi dengan konsep daring.” (Nadiem Makarim)

Akhirnya pemerintah memutuskan untuk tetap ada kegiatan belajar mengajar, tapi dengan beberapa penyesuaian.

Setelah beberapa bulan berjalan, seperti bagaimana respon masyarakat?

Keluhan Terkait Belajar Daring

Hampir setiap hari ada keluhan dari orangtua terkait kegiatan belajar daring.

Kebetulan anak saya masih sekolah dasar (SD) dan harus ikut juga belajar daring.

Selama ini pendampingan anak saya ketika belajar daring di rumah dilakukan oleh istri saya.

Saya hanya sesekali ikut membantu saat istri saya merasa kewalahan ketika harus membagi waktu antara mendampingi anak dan menyelesaikan tugas rumah tangga.

little girl reading a book
Photo by olia danilevich on Pexels.com

Sampai saat ini, saya lihat apa yang dilakukan istri saya bisa dibilang berhasil.

Berhasil, dalam arti target-target belajar harian anak saya bisa terselesaikan.

Dalam arti, materi-materi yang harus disampaikan ke anak saya bisa tersampaikan, tugas-tugas yang harus dikerjakan anak saya pun selesai di tangan anak saya.

Namun, begitu banyak keluhan para orangtua di luar sana yang saya dengar dari istri saya.

Tahulah ya, gimana kompaknya emak-emak di grup-grup WhatsApp atau pas lagi ngrumpi di depan rumah.

Sering juga saya lihat postingan di media sosial yang menunjukkan keluhan terkait penerapan belajar daring.

Ada yang mengeluh kendala perangkat untuk belajar, paket data, ketersediaan waktu untuk mendampingi anak, keraguan terhadap kemampuan anak, dan masih banyak lagi.

Sehingga beberapa orangtua mengambil jalan alternatif terpaksa mengikuti belajar daring tersebut dan mengerjakan soal-soal yang seharusnya dikerjakan anaknya.

Mereka berpikir, mungkin dengan mengerjakan soal pelajaran anaknya tersebut bisa lebih efisien waktu ketimbang harus mendampingi anak belajar dan mengarahkan untuk mengerjakan soal.

Bisa jadi memang para orangtua belum siap mengurangi waktunya untuk mendampingi belajar anak.

Ada beberapa rutinitas yang sepertinya masih butuh waktu beradaptasi untuk berubah.

Akhirnya, anaknya yang berstatus siswa, orangtua yang menjalankan peran sebagai siswa.

Ini fakta.

Sistem Belajar Daring

Lalu sistem belajar daring seperti apa yang cocok diterapkan di Indonesia?

Saya paham bahwa, membangun sebuah sistem belajar di Indonesia tuh enggak gampang.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini.

Pemerintah dituntut untuk membuat sistem belajar daring yang pas untuk diterapkan di Indonesia.

photo of woman lying on bed while using laptop
Photo by Elijah O’Donnell on Pexels.com

Ini konsekuensi atas sebuah keputusan yang sudah diambil. Karena enggak mungkin kegiatan belajar mengajar dihentikan selama pandemi.

Apalagi prioritas program pembangunan pemerintah yang sekarang adalah pembangunan sektor sumber daya manusia (SDM).

Jadi sebagai masyarakat, ya kita enggak seharusnya putus asa, mengeluh, apalagi menghujat pemerintah karena telah menerapkan sistem belajar daring.

Karena membangun sistem bukanlah sesuatu yang instan.

Jelas butuh waktu dan kerjasama dari semua pihak yang terkait.

Baik dari pemerintah, instansi pendidikan, lembaga atau organisasi masyarakat, guru dan juga peran orangtua yang sangat menentukan keberhasilan kegiatan belajar mengajar.

Nah, sebagai orangtua atau pelajar, ada baiknya kita beradaptasi dengan perubahan sistem belajar di Indonesia saat ini.

Ya, saya paham bagaimana rumitnya beradaptasi di sistem belajar daring, karena saya juga punya anak yang usianya masih 8 tahun.

Saya selalu positif thinking dengan yang sedang terjadi saat ini.

Karena saya tahu, seberat-beratnya kita beradaptasi dengan sistem belajar daring saat ini, masih jauh lebih berat masalah yang sedang dihadapi negara.

Atau kalau perbandingan itu ketinggian, ya cobalah keluar rumah dan amati gimana teman-teman kita yang berprofesi jadi guru sekaligus sebagai orangtua. [SNs]

7 comments
  1. Wah… Mumet kepalaku kalau belajar daring. Soalnya pengalaman nih, kuliah kan daring alias PJJ, lg asik memberi penjelasan yg super panjang dan lebar tiba-tiba saja koneksi putus dan ambyar akhirnya.

  2. Saya senang dengan adanya pelajaran secara daring ini. Bisa meluangkan waktu dengan anak. Di waktu lain, mereka tidak mau. Guru yang paling benar dan paling tahu. Sekarang ibunya yang begitu. Wkwkwkwk

  3. Beberapa teman saya yang anaknya belajar daring malah terinspirasi dan bikin buku cerpen bareng ‘Guruku Momster.’ Wkwkwk. Abisnya dari awalnya jadi ibu peri, malah jadi nenek sihir kalo udah kesel ngajarin anak. Apalagi ini udah berjalan 7 bulan ya mas. Hahaha. Semoga Mas Seno dan istri senantiasa sabar mendampingi ananda di rumah.

  4. Saat belum aman begini, apalagi tinggal di Jakarta, saya tetap setuju daring. Syukurnya anak-anak sudah besar, kelas X dan VI jadi saya cuma tinggal bagian teriak alias ngingetin aja. Enggak mau ah ngerjain tugas mereka…malah bikin mereka ga mau berusaha, kan? Bahkan untuk urusan perangkat, aplikasi saya yang malah diajari hihi…Jadi orang tua memang mesti ikhlas dengan adanya PJJ ini karena ini yang terbaik buat semua

  5. Setuju banget ya mas, apapun yang terjadi kita masalah negara yang lebih diutamakan untuk sementara kita perlu menyesuaikan diri jgn nambah beban

  6. untuk kondisi pandemi seperti sekarang, saya setuju dengan kebijakan daring.
    Orang tua harus menggunakan strategi sesuai dengan tipe anak mereka mungkin ya, sehingga keharmonisan di rumah tetap terjaga. Anak juga betah untuk belajar dan beraktivitas di rumah, orang tua pun begitu juga.

Leave a Reply

You May Also Like
aplikasi untuk penulis pemula
Read More

Aplikasi untuk Penulis Pemula

Sebagai seorang penulis, kita perlu menjaga konsistensi karya. Cara yang pas saat ini ya dengan memanfaatkan aplikasi untuk penulis pemula di android. Cek aja.
Read More

Lockdown

Lockdown sebenarnya lebih ekstrim, makanya pemerintah lebih memilih kebijakan "Sosial Distancing" dalam mengurangi penyebaran covid-19.