Dilema Perawat Menghadapi Covid-19

Meski sudah banyak tenaga kesehatan yang gugur dalam menjalankan tugas, tetap saja perawat memilih ambil risiko untuk merawat pasien covid-19.
Content Writer – Gimana Rasanya Jadi Perawat yang Harus Berjibaku dengan Covid-19?
Beberapa waktu yang lalu saya dapet jadwal jaga sebagai petugas skrining awal pasien dan pengunjung di rumah sakit tempat saya kerja.
Tugasnya ya, memeriksa suhu badan dan menanyai berbagai hal terkait dengan tanda dan gejala virus corona.
Ada sebuah meja dan beberapa peralatan yang ditempatkan di depan ruang IGD.
Di meja itulah saya dan satu orang teman lainnya stand by untuk memeriksa semua pasien, pengunjung, dan staf yang hendak memasuki lingkungan rumah sakit.
Semua akses pintu masuk ditutup, kecuali pintu depan IGD.
Jadi semua jalur keluar masuk rumah sakit terpusat di satu lokasi di depan IGD.
Aturan jam besuk ditiadakan, jumlah penunggu pasien diperketat, musala ditutup, dan berbagai aturan pembatadan lainnya diberlakukan untuk menjalankan himbauan social distancing.
Ini rasanya seperti mimpi, tapi nyata terjadi.
Rasa was-was ada di mana-mana, dan berbagai pembatasan untuk bersosialisasi telah membuat hidup beberapa orang menjadi lebih rumit dari biasanya.
Orang biasa mungkin merasa bagaimana rumitnya hidup dengan pembatasan seperti ini, apalagi para perawat yang mau enggak mau harus berhadapan langsung dengan risiko besar yang mengancam jiwa.
Memang setiap orang punya pilihan, begitu juga dengan perawat.
Mau ambil risiko merawat pasien terinfeksi covid-19 atau nekat mengisolasi diri dan tak peduli dengan keadaan di luar sana.
Kalau berpikir egois, tentu bakal pilih mangkir dari pekerjaan dan menyingkir jauh-jauh dari risiko tertular covid-19.
Kenyataannya enggak, meski sudah banyak tenaga kesehatan yang gugur dalam menjalankan tugas, tetap saja perawat memilih ambil risiko untuk merawat pasien covid-19.
Jadi petugas skrining tentu saja risikonya enggak seberat perawat yang ditugaskan sebagai tenaga khusus yang merawat pasien positiv corona.
Namun, petugas skrining pun memiliki risiko besar untuk tertular pasien yang terjangkit covid-19.
Kapanpun bisa saja kemungkinan buruk terjadi, tertular virus corona hanya karena ketidak hati-hatian dalam melakukan skrining atau kurang memperhatikan prosedur pengamanan diri menggunakan alat pelindung diri (APD).
Ketika mendengar beberapa petugas kesehatan tertular lalu meninggal, ada rasa ngeri dan takut menghadapi.
Apalagi melihat keterbatasan alat pelindung diri yang ada di rumah sakit.
Bukan hanya di tempat kerja saya, melain di rumah sakit lain pun mengeluhkan hal yang sama.
APD susah dicari, harganya dijual tinggi, dan kami pun harus bekerja dengan tingkat risiko tinggi.
Memang mudah kalau kita harus menyalahkan salah satu pihak, tapi dalam kondisi seperti ini saling menyalahkan bukanlah solusi tepat untuk bertahan.
Kita memang dianjurkan untuk menjaga jarak antar pribadi, tapi bukan berarti saling memusuhi.
Iya, bagaimana lagi? Kondisi seperti ini bukan terjadi atas kehendak kita pribadi.
Meski begitu, kita perlu berjuang agar masalah ini enggak berlarut dan menimbulkan dampak lebih parah lagi.
Yakin, kalau niat kita baik tentu balasannya pun baik.
Bukan cuma kebaikan untuk kita, pasti juga baik untuk orang lain.
Kalau boleh memilih, tentu penginnya di rumah saja.
Tetapi perlu kita ketahui bahwa ada kata hati yang enggak bisa dibohongi.
Ketika jiwa menolong dalam diri perawat telah lebur menjadi attitude, maka otomatis mereka akan memilih berjuang memanggul bendera profesi kebanggaan mereka.
Buat rekan-rekan sejawat perawat, tetap semangat. Kita sudah menggenggam satu kunci gerbang rumah indah kita di surga.
So, jadikan momentum ini sebagai ladang jihat kita di garda terdepan memerangi covid-19.

Leave a Reply

You May Also Like

Tak Ada yang Sia-Sia

Bismillah… Assalaamu’alaikum wr. wb. Alhamdulillahirrobbil’alamin, wassholatu wassalaamu’ala ashrofil anbiya’i walmursaliin wa’ala alihi washohbihi ajma’in ammaba’du. Segala puji bagi…

Tragedi Over Bagasi

Tragedi Over Bagasi – Adzan magrib berkumandang, ketika kami dalam perjalanan menuju bandara. “Nih, batalin puasa dulu.” Salah…