Ketika Kita Akrab dengan Deadline

“Ada lho sebagian orang yang powernya baru bisa all out hanya ketika dipepet deadline. Dikejar-kejar waktu, dijowal-jawil klien soal kerjaan dah beres apa belum. Uniknya, meski kadang dibikin deg-degan dengan situasi begini, besoknya tuh terulang lagi.”

Di sini kita enggak akan bahas soal perdebatan antara pemakaian kata ‘deadline’ dengan ‘dateline’ ya.

Ini sudah banyak artikel yang bahas. Nah, biar fresh, saya akan coba bahas sesuatu yang sifatnya personal.

Ini opini saya terkait hal-hal yang berkaitan dengan deadline.

Orang boleh setuju, enggak juga boleh. Namanya opini kan debatable.

Sering Saya Dikejar Deadline?

Yah, lumayan sering sih. Bisa seminggu sekali, atau bisa juga beberapa kali dalam seminggu.

Bukan hanya soal kerjaan, kadang pas ikutan lomba juga sering ngerjainnya mepet deadline.

Sebenarnya ini enggak baik untuk ditiru, ya? Bisa jadi ini kelemahan pribadi saya yang belum pintar memanajemen waktu.

Tapi, jujur kadang emang sengaja ngerjainnya saya pepetkan deadline.

Ya, kek ada yang beda gitu powernya pas ngerjain di mepet deadline dengan yang enggak.

Apa Aja Pengalaman Saya Dikejar Deadline?

Soal nulis artikel, jelas pernah ya? Buat temen-temen yang buka jasa penulisan artikel tentu pernah merasakan berada dalam situasi ini.

Selama ini sih masih bisa jalan, ya?
Selain itu pernah juga ikutan lomba blog, tapi ngerjainnya pas mepet deadline.

Lumayan ngos-ngosan ngerjainnya. Ya, risikonya memang kek gitu kalau ikutan lomba, tapi ngerjainnya mepet deadline.

Waktu itu sih ada yang dapet juara dua, kalau enggak salah lomba blog review UMKM.

Di balik itu, yang gagal juga banyak. Haha.

Pengalaman kejar deadline lainnya yaitu pas ikutan lomba video. Ada beberapa lomba dan hampir semua saya kerjakan pas mepet waktu deadline.

Festival film Gunungkidul 2019, Lomba video rayakan kemerdekaan (nasional), dan lomba video cerdas mengulas buku, itu beberapa event yang videonya saya kerjakan mepet deadline.

Hasilnya? Juara 1 Festival Film Pendek Gunungkidul 2019 kategori fiksi, 20 finalis terbaik video rayakan kemerdekaan.

Untuk video mengulas buku belum ada pengumuman, semoga besok tanggal 28 Oktober dapet hasil yang memuaskan ya?

Alasan Akrab dengan Deadline

Dari pengalaman dikejar deadline tersebut, saya jadi belajar banyak hal.

Terutama tentang kemungkinan-kemungkinan yang jadi alasan seseorang dekat dengan deadline.

Ada beberapa kemungkinan, kenapa seseorang begitu akrab dengan deadline. Apa aja?

Diperbudak Mood

Mood emang enggak selalu bagus. Ada kalanya turun dan bikin males ngapa-ngapain.

Bahkan ketika ada kerjaan pun, bawaannya “ah, entar ajalah. Masih besok kan DL-nya?”

Maka, akhirnya kerjaan itu tertunda. Baru mulai ngerjain ketika sadar sudah mepet DL. Dalam situasi ini, nyatanya kita enggak peduli mood sedang kek gimana.

Lemah di Manajemen Waktu

Ketika seseorang memutuskan untuk bekerja, sejatinya dia dihadapkan pada permasalahan manajemen waktu.

Dia harus bisa membagi antara waktu buat keluarga atau pribadi, dengan alokasi waktu untuk menyelesaikan tugas pekerjaan.

Meski kita kerja freelance, manajemen waktu ini juga berlaku. Nah, kalau kita begitu sering bermain-main dengan DL, bisa jadi kita nih masih lemah dalam hal manajemen waktu.

Cari Sensasi

Sensasi enggak selalu identik dengan biar dilihat keren sama orang lain lho ya, bisa saja sensasi tuh berhubungan dengan diri sendiri.

Semacam untuk kesenangan pribadi. Memang ada rasa agak gimana gitu ketika kita mampu lolos dari situasi kegentingan tertentu.

Memojokkan diri dalam situasi DL, lalu berhasil mengerjakan tanggung jawab pekerjaan, apalagi kalau hasilnya dapat apresiasi bagus. Rasanya wow banget.

Terpaksa Ambil Job Tambahan

Kadang nih, kita sedang ngerjain proyek apa gitu terus tiba-tiba ada yang butuh jasa kita. Nah, karena kita sedang butuh, ya akhirnya ambil tuh sebagai job tambahan.

Job tambahan inilah yang kadang nambahin beban. Menambah estimasi waktu pengerjaan, jika penambahan kerjaan itu enggak diimbangi dengan kapasitas kemampuan kita.

So, sering kali keteteran mengejar DL.

“Dari sekian kemungkinan, kira-kira kamu pernah ada di situasi yang mana? Atau jangan-jangan malah pernah di situasi semua itu.”

Leave a Reply

You May Also Like
Read More

Lockdown

Lockdown sebenarnya lebih ekstrim, makanya pemerintah lebih memilih kebijakan "Sosial Distancing" dalam mengurangi penyebaran covid-19.