5 Komunitas Penulis (Pemula) yang Membesarkan Saya

komunitas penulis
komunitas penulis
Mustahil saya bisa seperti sekarang ini tanpa ada campur tangan orang-orang hebat di sekitar saya. Inilah 5 komunitas penulis (pemula) yang membesarkan saya.

Content Writer – Pernah dengar ungkapan, “Untuk menjadi seorang penulis, kita enggak bisa sendirian,” dari beberapa orang penulis senior?

Kalau belum pernah, coba deh kita resapi bareng makna ungkapan tersebut. Apakah yang dimaksud itu kita enggak bisa berkarya dengan cara menyendiri, atau apa?

Atau jangan-jangan memang kita butuh komunitas penulis (pemula) sebagai tempat mengasah keterampilan menulis?

Percaya deh, kita akan benar-benar paham makna dari kalimat itu setelah melalui masa yang cukup panjang dalam dunia literasi.

Mulai belajar dasar-dasar kepenulisan, gabung di komunitas penulis, menerbitkan karya pertama, hingga menjadi penulis produktif.

Perlahan kesibukan mulai mengganggu aktifitas, porsi waktu mendalami literasi berkurang, jarang ngumpul bersama teman-teman komunitas, kemudian mulai merasa produktifitas menurun.

Di titik itulah kita akan mulai paham makna dari ungkapan, “Untuk menjadi seorang penulis, kita enggak bisa sendirian.”

Misal sudah paham sebelum melewati periode itu, ya syukur.

Di sini saya coba sharing aja tentang beberapa komunitas penulis yang membesarkan saya.

Komunitas penulis yang saya anggap memiliki kontribusi besar terkait karir saya di bidang penulisan.

Komunitas yang kemudian memahamkan saya bahwa memang untuk menjadi seorang penulis, kita enggak bisa sendirian.

Ada orang-orang di sekitar kita yang berperan besar terhadap bertumbuhnya diri kita sebagai seorang penulis.

Hal inilah yang saya rasakan. Setelah beberapa tahun berproses di beberapa komunitas penulis.

Baca Juga: Aplikasi untuk Penulis Pemula

Komunitas Pesantren Penulis

Tahun 2014, saya coba ikut acara workshop Writerpreneurship yang diadakan oleh Mas Dwi Suwiknyo.

komunitas penulis
Komunitas Pesantren Penulis

Ini pertama kalinya buat saya ikut kegiatan belajar menulis buku.

Waktu itu saya tertarik karena enggak nyangka kalau Mas Dwi yang dulu pernah jadi teman indekos saya di tahun 2009 an, ternyata seorang penulis buku.

Saya penasaran, lalu ikut di acara tersebut. Di acara inilah kemudian saya bisa kenal dengan beberapa penulis seperti Mas Redy Kuswanto, mbak Irfa Hudaya, dll.

Di acara itu saya bukan cuma belajar ilmu penulisan, melainkan juga tahu bagaimana teman-teman Pesantren Penulis saling memotivasi untuk berkarya.

Dulu kalau enggak salah ada sistem yang dinamakan, “Barter Karya Buku.”

Misal salah satu anggota komunitas tersebut ada yang bukunya terbit, dia akan ngasih satu buku ke teman yang lain.

Lalu teman yang dikasih buku, selanjutnya harus ngasih buku karya dia yang terbit ke teman yang tadi ngasih buku.

Jadi ada motivasi untuk segera menyelesaikan draft naskah untuk segera memenuhi utang buku tadi.

Sebenarnya bukan utang sebagaimana makna yang sebenarnya ya? Tapi lebih ke komitmen untuk memenuhi sistem barter karya tersebut.

Entah sistem seperti ini masih bisa kita temui di komunitas-komunitas lain atau enggak.

Saya rasa sistem ini sangat bagus diterapkan atau diadopsi untuk menjaga komitmen antar anggota komunitas penulis dan mempertahankan konsistensi dalam berkarya.

Saya waktu itu masih cupu dan belum punya bekal skill apa-apa dalam membuat karya buku.

Sehingga saya hanya berusaha belajar banyak dari mereka yang dengan senang hati saling berbagi di Komunitas Pesantren Penulis.

Baca Juga: Profesi Pilihan

Komunitas Jaringan Penulis Indonesia (JPI)

Masih di tahun yang sama, saya coba cari info mengenai komunitas penulis untuk menambah wawasan.

Saya dikenalkan sama admin komunitas Jaringan Penulis Indonesia oleh Mas Dwi Suwiknyo.

Saya coba kontak admin komunitas tersebut, lalu minta info mengenai syarat gabung komunitas Jaringan Penulis Indonesia (JPI).

Waktu itu syaratnya, saya harus kirim karya cerpen ke admin untuk dipublish di blog JPI.

komunitas penulis
Cerpen Pertama di Web Jaringan Penulis Indonesia

Setelah dipublish, saya mendapatkan kartu anggota Jaringan Penulis Indonesia resmi yang dibuatkan oleh pendiri komunitas JPI, yaitu Bang Endik Koeswoyo.

Saat itu tempat ngumpul anggota grup JPI masih di sebuah grup online BlackBerry Messenger (BBM).

Sekarang grup JPI bisa diakses di WhatsApp dan Facebook, dan masih aktif.

Alhamdulillah berkat JPI, saat itu saya akhirnya menyelesaikan cerpen pertama saya.

Meskipun berantakan, setidaknya cerpen itu selesai dan di-publish di blog jaringanpenulis.com.

Dari cerpen yang berantakan itu, saya mendapat banyak pelajaran berharga.

Teman-teman di JPI memberikan masukan tentang EYD, dialog tags, dan lain sebagainya.

Sejak saat itu saya mulai belajar mengenai teknis penulisan karya fiksi dan nonfiksi, hingga penulisan sinopsis dan skenario FTV.

Hingga sekarang grup JPI masih aktif dan Bang Endik dengan sabar membimbing kami tentang cara penulisan sinopsis dan skenario.

Komunitas Temu Penulis Yogyakarta (TPY)

Di tahun 2017 saya diajak oleh beberapa teman penulis di Jogja untuk mendirikan komunitas Temu Penulis Yogyakarta (TPY).

Mas Dwi Suwiknyo, Mas Redy Kuswanto, Pak Jack Sulistya, dan Kak Adin, berinisiasi mendirikan komunitas TPY.

Konsep kegiatannya fokus di pertemuan offline dan produksi karya.

Pertemuan perdana komunitas TPY diadakan di rumah Pak Jack, dan diikuti oleh beberapa penulis dari berbagai latar belakang.

komunitas penulis
Kopdar Pertama Komunitas Temu Penulis Yogyakarta (TPY)

Ada penulis fiksi, non fiksi, dan Bloger (saya). Kebetulan memang konsep awal TPY pengin berbagi ide dan wawasan antar penulis berbagai genre.

Harapannya agar lebih terbuka wawasan, sehingga dapat melahirkan karya yang fresh.

Setiap kali pertemuan ada sesi sharing anggota dan sharing narasumber.

Sharing anggota ini diisi materi sesuai bidang penguasaan anggota.

Misal yang menguasai penulisan cerpen, ya sharing pengalaman tentang menulis cerpen.

Sedangkan sharing oleh narasumber diisi oleh seorang narasumber yang memiliki pengetahuan dan keahlian yang cukup di bidangnya.

Setiap pertemuan kami sepakati hendak belajar tentang apa, kemudian mendatangkan narasumber yang sesuai dengan materi tersebut.

Selama beberapa tahun TPY berjalan, kami sudah belajar tentang berbagai genre penulisan.

Mulai dari penulisan artikel, cerpen, novel, komedi, hingga penulisan skenario.

Bahkan kami sering mendatangkan editor untuk sharing terkait penerbitan buku.

Seperti editor dari Elex Media, Bentang Pustaka, Diva Press, dan lain sebagainya.

komunitas penulis
Kopdar TPY Bersama Editor Bentang Pustaka

Sempat juga sharing mengenai optimasi Instagram. Karena memang kami ingin memfasilitasi kebutuhan anggota.

Melalui kegiatan di komunitas TPY, kami melahirkan beberapa karya buku antologi yang terbit di beberapa penerbit mayor dan terbit indie.

Baca Juga: Terbit Lagi, True Story yang Penuh Emosi

Sampai sekarang komunitas TPY masih aktif, meskipun enggak seproduktif dulu.

Banyak orang mengira bahwa, untuk gabung di TPY ini harus memiliki bekal yang mumpuni dalam hal penulisan.

Sehingga saya sering mendengar beberapa orang yang hendak ikut acara TPY merasa minder.

Mereka menganggap yang gabung di TPY tuh penulis senior semua.

Penulis yang sudah punya pengalaman dan punya karya.

Padahal penulis pemula pun banyak yang gabung di TPY.

Karena memang harapannya TPY ini bisa jadi jembatan teman-teman penulis untuk berkarya.

Saya senang dan mengapresiasi teman-teman penulis di TPY yang enggak pelit berbagi ilmu.

Meskipun jam terbang mereka sudah tinggi dan produktif sekali, mereka tetap menyempatkan diri berbagi ilmu di TPY.

Tim Penulis Trenlis.co (Trenster)

Biasanya sebuah komunitas tuh identik dengan anggota yang banyak dan spesifik di bidang atau hobi tertentu.

komunitas penulis

Berbeda dengan Trenster, di sini hanya beranggotakan 13 orang penulis saja.

Mungkin kurang pas disebut sebagai komunitas, karena lebih condong ke tim penulis.

Namun, saya merasa tim ini memiliki kontribusi besar juga terhadap karir kepenulisan saya.

Jadi, saya pengin mengabadikannya di artikel ini. Hehe.

Tim Penulis Trenlis.co ini awalnya dibentuk oleh Mas Dwi Suwiknyo yang tujuan utamanya untuk mengisi konten di website trenlis.co.

Bisa dibilang sistem yang diterapkan di tim ini menurut saya memiliki kelebihan dibanding sistim di komunitas lainnya.

Kenapa saya bilang dibandingkan dengan komunitas lain? Karena apa yang diterapkan di tim trenster ini sebenarnya akan sangat bagus diterapkan di komunitas-komunitas penulis lainnya.

Kami selalu diberi tema yang berbeda setiap minggunya, ada target penyelesaian draft tulisan, ada proses review, revisi, dan sharing materi dari pakar.

Setiap penulis sudah dibuatkan jadwal masing-masing. Kapan harus ngumpul draft, kapan direview, dan kapan di-publish.

Jadi targetnya jelas, dan produktifitas anggota pun tetap terjaga.

Menariknya lagi, ada reward atas capaian tertentu. Ini sangat efektif menghadirkan iklim kompetisi yang positif.

Di tim ini setiap tulisan harus memenuhi standar layak baca, layak terbit, dan layak jual.

Kenapa sistemnya sedemikian ketat? Karena karya-karya yang dihasilkan Tim Trenster ini juga dibukukan sebagai karya antologi.

Bahkan kami diberi kesempatan untuk menulis naskah buku solo yang proses penulisannya dikawal hingga penjualan.

Mulai dari mencari ide, riset pesaing, menyusun draft, penulisan naskah, hingga penerbitan.

Bersama Tim Trenster, saya bisa belajar bagaimana proses penulisan naskah buku mulai dari pencarian ide hingga penerbitan.

Jika komunitas-komunitas penulis mengadopsi sistem yang ada di Tim Trenster ini, saya rasa akan banyak karya-karya buku yang lahir dari komunitas penulis tersebut.

Jadi, enggak hanya sekadar kumpul-kumpul dan belajar tanpa menghasilkan karya.

Baca Juga: Buku Romance Pertama Trenster

Komunitas Content Writer Freelance

Saya kemudian memutuskan untuk fokus di bidang penulisan konten website.

Mengerjakan beberapa job penulisan konten website, sambil ikut di kegiatan komunitas-komunitas penulis.

Saya merasa sebagai penulis konten pun butuh teman atau jaringan, maka dari itu saya mendirikan komunitas Content Writer Freelance.

Tujuan awal sih untuk saling sharing dan bagi-bagi job penulisan konten website.

Karena saya pikir dalam bidang penulisan konten kadang ada masanya kita kewalahan menerima order, atau ada orderan artikel yang niche dan rate-nya enggak memungkinkan untuk kita kerjakan.

komunitas penulis
Databased Anggota Content Writer Freelance Angkatan 1

Maka di komunitas ini kita bisa share atau cari partner untuk mengerjakan proyek tersebut.

Harapannya kita tetap bisa melayani permintaan artikel, dan juga punya partner kerja sehingga bebannya lebih ringan.

Alhamdulillah sampai sekarang komunitas ini berjalan dan beberapa kali mendatangkan job penulisan konten buat saya pribadi dan juga teman-teman.

Di grup WhatsApp Content Writer Freelance bebas share job dan cari partner untuk pengerjaan proyek.

Sehingga bisa jadi jembatan bagi penulis pemula untuk merasakan bagaimana bekerja secara tim dalam mengerjakan proyek penulisan konten website.

Alhamdulillah, dari kegiatan sharing di grup tersebut, saya bisa mengaplikasikan keilmuan saya melalui jasa artikel SEO yang saya dirikan bersama teman-teman penulis freelance.

Rekomendasi Komunitas Penulis untuk Pemula

Kira-kira nih, komunitas mana yang rekomended untuk diikuti oleh penulis pemula?

Pada dasarnya semua konunitas penulis itu memiliki program dan kegiatan yang bagus untuk kita.

Masing-masing tentu berorientasi pada kualitas karya anggotanya, sehingga selalu berusaha memperbaiki sistem dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Menjadi Penulis Karena Hidup yang Membosankan

Begitu juga dengan beberapa komunitas yang saya sebutkan di atas.

Jadi kalau ditanya komunitas penulis mana yang rekomended untuk penulis pemula? Ya, bisa jadi semua komunitas tuh rekomended.

Tinggal kita sesuaikan saja mana komunitas yang menurut kita cocok sistemnya untuk diikuti.

Jangan sampai kita gabung di komunitas penulis hanya sekadar ikut-ikutan atau hanya sebatas silent reader saja.

Sehingga sudah sekian lama gabung, baru nyadar kalau produktifitasnya melempem.

Sebenarnya, di awal kita bisa pilih hendak fokus di bidang penulisan apa, kemudian fokus mempelajari bidang penulisan tersebut.

Lalu gabung di komunitas yang berisi orang-orang yang punya minat yang sama.

Selain itu juga harus terus mengasah keterampilan menulis, bisa juga dengan memanfaatkan aplikasi untuk penulis pemula yang ada di android maupun laptop.

Sehingga ke depan kita bisa menjadi expert di bidang tersebut, karena lingkungan yang kita pilih memang sesuai dengan bidang yang kita geluti.

Kita enggak harus gabung di semua komunitas penulis dan belajar semua genre tulisan.

Lebih baik fokus saja pada satu bidang penulisan yang hendak ditekuni dan pilih beberapa komunitas yang mampu memotivasi kita untuk tetap produktif.

Jangan tiru saya, ikut di beberapa komunitas penulis, tapi enggak produktif. [SNs]

13 comments
  1. Saya langsung berapi-api melirik dua komunitas menulis Trenlis dan JPI karena saya ingin sekali belajar banyak tentang menulis fiksi dan non fiksi (terutama untuk kepenulisan bidang pendidikan), bagaimana cara gabungnya ya mas?

  2. Setuju kak, gabung dng komunitas yg isinya org2 dng minat yg sama membuat kita termotivasi untuk cepat mencapai tujuan..krna bnyk inspirasi yg didapat..

  3. setuju kak, dng gabung dikomunitas yg pnya kesamaan minat yg sama membuat kita jadi termotivasi ya untuk cepat mencapai tujuan terutama kalau dibidang penulisan jadi lbh tau arah kita menjadi penulis dng nichie spti apa

  4. Manfaatnya bnyk bgt dgn ikut komunitas nulis. Motivasi dan belajar lbh baik. Saya pas mulai nulis, ikutan juga. Saya kl ga ikut grup nulis n grup bw, tulisan saya ga ada yg baca hahaha

  5. Kalau tergabung di beberapa komunitas selain nambah pertemanan juga tambah ilmu.

    Apalagi jika komunitas tersebut satu hoby dengan kita,jadi makin semangat dong ya. Dan intinya jangan gengsi bertanya,karena kita bisa serap ilmu nya agar kedepan karya kita lebih maksimal lagi.

  6. Kak mau tau dong caranya gabung ke JPI. aku daridulu pengen gabung kesitu, tapi ngga ada akses. Udah coba dm admin di instagram blm dicoba. Hehe.
    Kira kira kemana yaa kak bisa daftar jadi anggota JPI? Terimakasiiiihh banyak

  7. Wah anak buahnya mas Endik ya. kenapa gak fokus pada salah satu karya ilmiah. medianya udah lengkap gitu. hayo difokuskan lagi kak. nulis naskah skenario menarik tuh. nanti bisa kolaborasi sama saya. hehe

  8. kak, boleh dong gabung di group komunitas penulis content writer freelance? Syaratnya apa saja? saya baru belajar, sudah jadi contributor sebuah web. Oh ya ngomongin trenlis.co aku dulu suka bacanya. sering dishare mas Dwi Suwiknyo dulunya.

  9. Dulu saya pernah ikut komunitas oenulis yang terkenal nasional dan banyak cabang di mana2. Sampai ikut mabit kearaban, panitia berbagai acara, tapi justru nulisnya yang nggak jalan.

  10. setuju dengan artikel ini. kesamaan minat dsan tujuan menjadikan kita tetap semangat. termasuk berteman dengan para penulis, akan menjadikan kita termotivasi, tambah ilmu, tambah pengalaman, tambah informasi, dan kita mau belajar dari mereka. maka kompetensi menulis kita menjadi lebih baik

  11. Wah seneng n bangga banged masih berada di GWA nya Content Writer Freelance yang digawangi Mas Seno dari awal. Btw, laman Writer Partner masih ada kan ya Mas.. di Blogerclass. Bangga lho ya bs ikutan nampang di sana, haha

  12. ketika kita memiliki komunitas penulis pasti para anggot akan upgrade terus dan mengasah kemampuan menulis dan menulis terus hingga menjadi penulis profesional

  13. Emang bener ya temen atau komunitas yang kita dekati mempengaruhi kita. Ibarat kalau dekat sma jual parfum pesti kena wanginya. Begitupula klo dekat dg komunitas penulis sedikit banyak pasti tahu dengan literasi.

Leave a Reply

You May Also Like

7 Resep Jatuh Cinta

Resep Jatuh Cinta 7 resep jatuh cinta – Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk bisa jatuh cinta. Selama naluri…