Sepahit Apapun Kisah Kita, Jalani dan Bersyukurlah

Karena jangkauan referensi kita terbatas, sehingga sering merasa paling berhak memiliki dibanding orang lain.

Padahal masih banyak yang jauh lebih berhak dibanding kita, dan kita enggak tahu. Termasuk hak memiliki kisah hidup yang paling inspiratif.

Ketika kita sudah sukses, hidupnya lebih enak, kadang merasa, “Aku berhak ada di posisi ini, karena sudah begitu banyak pahitnya jalan hidup yang kulewati.”

Ketika bertemu orang lain pun kadang kita seperti melambung dipuji-puji.

“Kamu hebat, sekarang sudah sukses. Bagi dong kisah inspiratifnya, biar aku juga bisa kek kamu.”

Maka kita pun dengan berapi-api menceritakan kisah kita, seolah memiliki kisah paling inspiratif yang layak untuk dijadikan referensi orang lain.

Memang benar, ada beberapa orang yang terinspirasi kisah kita, bahkan dengan heroik meniru jejak kesuksesan kita.

Kalau kita flashback ke belakang, mungkin dulu kita pun mengalami hal yang sama.

Berguru pada kisah inspiratif seseorang, lalu menjadikan kisah mereka sebagai referensi untuk memperbaiki nasib kita.

Kalau sekarang kita masih terpuruk, bisa jadi perlu banyak referensi kisah inspiratif orang-orang sukses.

Ya, jangan terlalu banyak melihat enaknya hidup mereka, lihatlah sisi pahit dan beratnya hidup mereka.

Sehingga kita tahu bahwa yang kita alami saat ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kisah mereka.

Kalau mereka bisa, kita seharusnya juga bisa.

Leave a Reply

You May Also Like